The Red Baron: Pilot Tempur Jerman yang Paling Mematikan Pada Perang Dunia I

By: Berawan Blogger - September 22, 2023

Baca Juga

Daftar Isi [Tampilkan]

The Red Baron (Baron Merah) adalah nama yang diberikan kepada seorang pilot pesawat tempur Jerman yang merupakan pilot ace (andalan) paling mematikan dalam Perang Dunia I. Selama karir petempurannya antara tahun 1916 dan 1918, bangsawan Prusia ini telah menembak jatuh sekitar 80 pesawat musuh dengan ciri khas pesawatnya yang berwarna merah tua. Legenda Baron Merah semakin melambung setelah ia ditugaskan untuk mengambil alih komando sayap tempur Jerman yang dikenal dengan nama Flying Circus. Akan tetapi, kariernya sebagai pilot tempur harus berakhir pada  bulan April 1918, ketika ia terbunuh dalam sebuah pertempuran udara di atas wilayah negara Prancis.

Latar Belakang Manfred von Richthofen


Manfred von Richthofen lahir pada tanggal 2 Mei 1892, ia merupakan anak dari keluarga bangsawan yang bergelar "Baron" dari sebuah wilayah di kerajaan Prusia yang nantinya akan menjadi bagian dari negara Polandia.

Sejak usianya masih 4 tahun, dia diketahui sangat menyukai olahraga atletik, senam, dan berburu. Dan ketika dia ber-usia 11 tahun, ia dikirim ke sekolah militer untuk dilatih. Setelah delapan tahun menjadi kadet disana, Richthofen akhirnya resmi ditugaskan sebagai perwira di resimen kavaleri Uhlan 1 tentara Prusia di tahun 1911. Dan dari sinilah dia memulai karir militernya.

Pada tahun 1914 ketika Perang Dunia I dimulai,  Richthofen bertugas sebagai perwira pengintai kavaleri di Front Timur dan Barat. Dia kemudian dianugerahi dengan medali Iron Cross sebagai penghargaan atas keberaniannya selama bertugas disana. Namun, bersamaan dengan munculnya perang parit; yang membuat operasi kavaleri tradisional menjadi tidak lagi efisien, resimen Richthofen segera dibebastugaskan.

Karena merasa kecewa sekaligus bosan, Richthofen kemudian meminta untuk dipindahkan ke Die Fliegertruppen des deutschen Kaiserreiches (Dinas Udara Kekaisaran Jerman) yang kemudian dikenal sebagai Luftstreitkräfte. Menurut catatan, dia menulis surat untuk komandannya bahwa ia tidak bergabung dengan pasukan militer hanya untuk mengumpulkan keju dan telur. 

Permintaannya itu dikabulkan pada bulan Juni 1915, dimana Richthofen ditugaskan di kursi belakang pesawat sebagai seorang pengamat dalam misi pengintaian di wilayah Front Timur. Kemudian, pada bulan Agustus 1915, dia ditugaskan di unit terbang Ostend, sebuah kota yang berlokasi di pesisir Belgia. Di sana, dia bertugas bersama dengan seorang pilot yang bernama Georg Zeumer, yang nantinya akan mengajarinya cara menerbangkan pesawat solo. 

Pada bulan September di tahun yang sama, dia dipindahkan ke Brieftauben Abteilung Ostende di front Champagne, dimana bertugas bersama seorang pilot yang bernama Henning von Osterroth. Richthofen diyakini telah menembak jatuh pesawat Farman Prancis dengan senapan mesin pengamatnya, ketika bertempur bersama Henning di atas wilayah udara Prancis. Sayangnya, dia tidak dikreditkan atas kejadian tersebut, sebab pesawat tersebut dilaporkan berada di belakang garis Entente dan sulit untuk dikonfirmasi.

Richthofen Sebagai Pilot Pesawat Tempur


Suatu hari, Richthofen bertemu dengan pilot ace sekaligus pahlawan nasional kekaisaran Jerman yang bernama Oswald Boelcke. Pertemuan tersebut telah membuatnya memutuskan untuk mengikuti pelatihan sebagai pilot pesawat tempur pada bulan Oktober 1915. 

Pada tahun 1916, dia bergabung dengan Skuadron Pengebom No. 2 yang menerbangkan pesawat Albatros C.III yang memiliki dua tempat duduk. Pada awalnya, dia kesulitan untuk mengendalikan pesawatnya, bahkan sampai menabrak dan jatuh. Meskipun begitu, ia belajar dengan sangat cepat sehingga akhirnya ia terbiasa. 

Pada tanggal 26 April 1916, dia tengah bertempur di wilayah Verdun dan berhasil menjatuhkan pesawat Prancis di atas Fort Douaumont, kejadian tersebut tercatat sebagai skor pertamanya sebagai pilot tempur, meskipun dia tidak mendapatkan penghargaan resmi. Suatu hari, pria keras kepala ini pernah mengabaikan saran dari seorang pilot senior untuk tidak terbang melewati badai petir dan malah melakukan hal tersebut. Namun, dia beruntung karena bisa selamat setelah melewati badai tersebut dan bersumpah untuk tidak akan pernah lagi melakukannya kecuali diperintah.

Richthofen bertemu kembali dengan Oswald Boelcke pada Agustus 1916, Boelcke kala itu tengah mencari kandidat untuk unit terbangnya yang bernama "Jasta 2" yang baru dibentuk. Richthofen menjadi salah satu yang terpilih untuk bergabung dengan unit ini, yang merupakan salah satu skuadron tempur pertama kekaisaran Jerman. 

Namun, pada tanggal 28 Oktober 1916, Boelcke tewas dalam kecelakaan di udara ketika peswatnya mengalami sebuah kecelakaan, dan Richthofen menyaksikan peristiwa tersebut. Setelahnya, ia semakin termotivasi untuk membuat mentornya bangga. Pada bulan September di tahun yang sama, dia berhasil menembak jatuh pesawat tempur Inggris di dekat Cambrai di Prancis, dia pun mulai terkenal.

Hebatnya, dia behasil mencetak lima kemenangan dan selalu berhasil lolos dari situasi berbahaya begitu saja. Richthofen sebenarnya bukanlah pilot yang hebat, tetapi caranya dalam bermanuver dan taktik pertempuannya di udara, telah membuatnya menjadi salah satu penerbang terhebat yang akan dikenal sepanjang masa.

Pesawat Andalan Richthofen


Meskipun banyak yang bilang bahwa pesawat Fokker Dr.I Dreidecker adalah mesin tempur andalannya, Richthofen sebenarnya memiliki kemenangan lebih banyak saat dia berada di dalam pesawat Albatros D.III miliknya. Dia diketahui telah dianugerahi dengan penghargaan militer tertinggi untuk penerbang yang dikenal dengana nama " Pour le Merite " yang informalnya dikenal dengan nama "The Blue Max".


Pada awal tahun 1917, Richtofen bertempur menggunakan Albatros D.III dan berhasil mencetak dua kemenangan dengan pesawat tersebut, sebelum akhirnya pesawat itu mengalami kerusakan bagian sayap bawah pada tanggal 24 Januari. Dia pun terpaksa harus kembali menerbangkan Halberstadt D.II atau Albatros D.II selama lima minggu berikutnya.

Richthofen menerbangkan Halberstadt pada tangggal 6 Maret dalam pertempuran melawan pesawat F.E.8 dari Skuadron 40 RFC, dimana tangki bahan bakarnya telah terkena peluru dari pesawat yang dtierbangkan oleh Edwin Benbow. Richthofen berhasil melakukan pendaratan darurat di dekat Hénin-Liétard tanpa mengalami kebakaran pada pesawatnya.

Pada tanggal 9 Maret, dia bertempur menggunakan Albatros D.II dan berhasil meraih kemenangan. Tetapi setelah Albatros D.III selesai diperbaiki pada tanggal 2 April 1917, dia kembali menggunakannya dan berhasil meraih 22 kemenangan sebelum akhirnya dia beralih menggunakan Albatros D.V pada akhir Juni.

Saat musim gugur pada tahun 1917, dia mulai mewarnai badan pesawat Albatros D.III nya dengan cat berwarna merah. Hal inilah yang nantinya akan membuatnya dijuluki sebagai "The Red Baron" ketika pesawatnya terlihat sedang beraksi di atas udara.

Richthofen juga ikut andil dalam mengembangkan Fokker D.VII dengan memberikan berbagai saran untuk mengatasi kekurangan pesawat tempur Jerman saat itu. Sayangnya, dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menerbangkan pesawat tipe baru ini ketika telah selesai dibuat, sebab dia telah terbunuh dalam pertempuran.

Gugurnya Sang Baron Merah


Richthofen telah mengalami berbagai kejadian berbahaya selama karir penerbangannya. Salah satunya terjadi pada 6 Juli 1917, ketika tengkorak kepalanya mengalami luka serius yang diakibatkan karena sebuah peluru yang menyerempet kepalanya selama pertempuran melawan pesawat tempur Inggris. Untungnya dia berhasil lolos dari kejaran musuh dan mendaratkan pesawatnya dengan selamat. Setelah kejadian itu, dia segera dipulangkan dan menerima sambutan sebagai seorang pahlawan

Masih dalam pemulihan, Richthofen diketahui memaksa kembali bertugas dengan Flying Circus pada akhir Oktober 1917, ia tidak pernah pulih dari cedera kepalanya dan sering mengeluh sakit kepala dan mual. Beberapa sejarawan berspekulasi bahwa ia mungkin juga menderita gangguan PTSD.

Dan tanggal 21 April 1918 telah tercatat sebagai akhir dari The Red Baron, ketika ia dan unitnya bertempur melawan pesawat Inggris di atas Vaux-sur-Somme, Prancis. Kala Richthofen tengah menukik rendah untuk mengejar pesawat tempur musuh, dia mendapat serangan dari darat oleh penembak mesin Australia, bersamaan dengan serangan dari pesawat tempur yang dikemudikan oleh penerbang Kanada, yang bernama Arthur Roy Brown.

Pertarungan tersebut berlangsung dengan sengit, tetapi Richthofen menerima luka tembakan di bagian dada oleh peluru kaliber 303. Sang Baron Merah pun menemui ajalnya setelah mendarat darurat di sebuah lapangan. Brown kemudian mendapatkan penghargaan resmi karena telah berhasil menjatuhkan pesawat Red Baron, namun terjadi perdebatan soal peluru siapa yang sebenarnya telah menjatuhkan Red Baron, apakah peluru dari Brown atau peluru dari serangan pasukan infanteri Australia.

Tidak lama kemudian, jasad Richthofen telah ditemukan oleh pasukan sekutu, kemudian mereka menguburkan jasadnya dengan penghormatan penuh ala militer. 

Manfred von Richthofen, meninggal pada tanggal 21 April 1918 di usianya yang ke 25 tahun. Meskipun hanya bertempur selama lebih dari dua tahun, tetapi Richthofen telah mencetak 80 kemenangan yang merupakan yang terbanyak selama Perang Dunia I.

Show comments
Hide comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar